Mohon tunggu...

IMG-LOGO
Agt 13, 2026 | 74

Sifilis

gejala sifilis, pengobatan sifilis, sifilis pada kehamilan, infeksi menular seksual, IMS.


Sifilis adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini menyebar melalui hubungan seksual tanpa pengaman, baik secara vaginal, anal, maupun oral dengan orang yang sudah terinfeksi.

Sifilis merupakan infeksi bakteri yang dapat berkembang tanpa gejala dalam jangka waktu lama. Deteksi dan pengobatan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius pada otak, jantung, mata, dan sistem saraf.

Sifilis bisa diobati dengan antibiotik. Namun, jika tidak segera ditangani, infeksi ini dapat menjadi serius dan merusak banyak organ tubuh, seperti otak, jantung, mata, dan sistem saraf.

 

Tahapan sifilis

 

Sifilis berkembang secara bertahap dan memiliki beberapa fase. Gejalanya bisa berbeda di setiap tahap, dan pada fase awal, seseorang bisa sangat mudah menularkan penyakit ini.

 

1.     Sifilis primer (awal)

Tahap ini biasanya muncul sekitar 2–12 minggu setelah terinfeksi. Walaupun luka hilang, infeksi masih ada di dalam tubuh jika tidak diobati.

Ciri – cirinya: Muncul luka kecil (chancre) di area kelamin atau mulut, Luka biasanya tidak sakit, jadi sering tidak disadari, Luka bisa hilang sendiri dalam beberapa minggu

 

2.     Sifilis sekunder

Terjadi beberapa minggu atau bulan setelah luka pertama sembuh. Pada tahap ini, sifilis masih sangat menular

Ciri – cirinya: Ruam di seluruh tubuh, termasuk telapak tangan dan kaki, Tidak gatal, Bisa disertai Demam, lelah, Sakit kepala, nyeri otot, rambut rontok , dan pembengkakan kelenjar getah bening, Bisa muncul dan hilang berulang.

 

3.     Sifilis laten

Pada tahap ini Biasanya sudah tidak menular lewat hubungan seksual, tetapi tetap bisa merusak organ tubuh secara perlahan jika tidak diobati.

Ciri – cirinya: Tidak ada gejala yang terlihat, Bakteri tetap ada di dalam tubuh, Bisa berlangsung bertahun-tahun

 

4.     Sifilis lanjut (tersier)

Ini adalah tahap paling berat yang bisa terjadi bertahun-tahun setelah infeksi.

Dampaknya bisa meliputi: Kerusakan otak (gangguan ingatan atau demensia), Penyakit jantung, Gangguan saraf dan Gerakan, Kejang, Gangguan penglihatan hingga kebutaan

 

Sifilis Kongenital

 

Sifilis kongenital terjadi ketika ibu hamil yang terinfeksi menularkan sifilis ke bayinya di dalam kandungan. Karena itu, pemeriksaan IMS pada ibu hamil sangat penting agar bisa segera diobati jika ditemukan infeksi.

Dampaknya bisa sangat serius, seperti: Gangguan pertumbuhan bayi, Kelainan   organ, Kematian bayi dalam kandungan atau setelah lahir

Gejala dan Penyebab Sifilis

 

Gejalanya berubah sesuai tahap. Pada awalnya muncul luka kecil di area kelamin, mulut, atau bibir yang biasanya tidak sakit dan sering tidak disadari. Setelah itu bisa muncul ruam di seluruh tubuh, termasuk telapak tangan dan kaki, disertai gejala seperti demam, lelah, nyeri otot, dan sakit tenggorokan  . Pada tahap selanjutnya, gejala bisa tidak terlihat sama sekali, tetapi infeksi tetap ada di dalam tubuh.

Penyebabnya adalah bakteri yang masuk melalui kontak langsung saat berhubungan seksual atau melalui luka di kulit. Penyakit ini juga bisa menular dari ibu hamil ke janin, tetapi tidak menular lewat benda seperti toilet atau gagang pintu.

 

Faktor Risiko

 

Risiko menangkap sifilis lebih tinggi jika Anda:

 

·       Lakukan seks tanpa perlindungan.

·       Berhubungan Seks dengan lebih dari satu pasangan.

·       Hidup dengan HIV, virus yang menyebabkan AIDS jika tidak diobati.

 

Kemungkinan mendapatkan sifilis juga lebih tinggi untuk pria yang berhubungan seks dengan pria. Risiko yang lebih tinggi mungkin terkait, sebagian, dengan lebih sedikit akses ke perawatan kesehatan dan lebih sedikit penggunaan kondom di antara kelompok ini. Faktor risiko lain untuk beberapa orang dalam kelompok ini termasuk seks baru-baru ini dengan pasangan yang ditemukan melalui aplikasi media sosial.

Komplikasi Sifilis

 

1.     Benjolan atau pertumbuhan kecil: Pada tahap lanjut, sifilis bisa menimbulkan benjolan kecil yang disebut gummas. Benjolan ini dapat muncul di kulit , tulang, hati, atau organ lainnya. Biasanya, gummas akan mengecil atau hilang setelah diobati dengan antibiotik.

2.     Masalah pada sistem saraf (neurologis): Sifilis dapat memengaruhi otak, saraf, dan sumsum tulang belakang. Kondisi ini bisa menyebabkan: Sakit kepala, Stroke, Meningitis (radang pada lapisan pelindung otak dan saraf tulang belakang), Kebingungan, perubahan kepribadian, atau sulit focus, Gejala mirip demensia, seperti gangguan ingatan dan penurunan kemampuan mengambil Keputusan, Kelumpuhan (tidak bisa menggerakkan bagian tubuh tertentu) , Disfungsi ereksi (sulit mendapatkan atau mempertahankan ereksi), Masalah pada kandung kemih.

3.     Masalah pada mata: Jika sifilis menyebar ke mata (disebut sifilis okular), dapat menyebabkan: Nyeri atau kemerahan pada mata, Gangguan penglihatan, Kebutaan

4.     Masalah pada telinga: Jika menyebar ke telinga (otosifilis), gejalanya bisa berupa: Gangguan pendengaran, Telinga berdenging (tinnitus), Sensasi pusing seperti berputar (vertigo)

5.     Masalah pada jantung dan Pembuluh darah: Sifilis dapat merusak pembuluh darah besar, termasuk aorta (pembuluh darah utama tubuh), serta dapat mengganggu fungsi katup jantung.

6.     Meningkatkan risiko HIV: Luka akibat sifilis di area genital dapat memudahkan penularan HIV karena luka tersebut bisa berdarah dan menjadi pintu masuk virus saat berhubungan seksual.

 

Pengobatan Sifilis

 

Sifilis diobati dengan antibiotik, yaitu obat yang digunakan untuk membunuh bakteri penyebab infeksi. Jenis antibiotik yang paling sering digunakan untuk sifilis adalah penisilin. Dosis dan lama pengobatan tergantung pada tahap sifilis serta gejala yang dialami.

 

·       Penting selama pengobatan

Walaupun gejala seperti luka atau ruam sudah hilang, obat antibiotik harus tetap diminum sampai habis sesuai petunjuk dokter. Menghentikan pengobatan terlalu cepat bisa membuat infeksi tidak sembuh sempurna.

·       Pemberitahuan kepada pasangan seksual

Jika Anda didiagnosis sifilis, penting untuk memberi tahu pasangan seksual Anda dalam dua tahun terakhir agar mereka juga bisa melakukan pemeriksaan dan mendapatkan pengobatan jika diperlukan.

·       Pemeriksaan setelah pengobatan

Dokter biasanya akan melakukan tes darah ulang setelah pengobatan untuk memastikan infeksi sudah benar-benar hilang.

·       Bisa terinfeksi lagi

Sifilis bisa terjadi kembali meskipun sudah sembuh. Karena itu, penting untuk tetap melakukan hubungan seksual yang aman dan melakukan tes secara rutin jika memiliki risiko tinggi.

 

 

 

Interaksi dan Perhatian Pengobatan

 

Pasien harus mengikuti seluruh anjuran dokter, melakukan kontrol ulang, dan memberi tahu pasangan seksual agar rantai penularan dapat diputus.

Jika muncul ruam luas, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, nyeri dada, gejala neurologis, atau jika sedang hamil dan didiagnosis sifilis.

 

Pencegahan Sifilis

 

Saat ini belum ada vaksin untuk mencegah sifilis. Namun, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko penularan:

 

1.     Melakukan hubungan seksual yang aman atau tidak berhubungan SEKS

Cara paling efektif untuk mencegah sifilis adalah tidak melakukan hubungan seksual (abstinensi).

Jika tetap aktif secara seksual, lakukan hubungan yang aman, misalnya dengan pasangan jangka panjang yang sudah saling setia dan sama-sama tidak terinfeksi. Sebelum berhubungan dengan pasangan baru, sebaiknya lakukan tes infeksi menular seksual (IMS), termasuk sifilis.

2.     Menggunakan kondom

Kondom lateks dapat membantu menurunkan risiko penularan sifilis. Namun, kondom hanya efektif jika menutupi area yang terinfeksi. Perlu diingat, metode kontrasepsi lain seperti pil KB tidak melindungi dari sifilis.

3.     Menghindari Alkohol dan narkoba

Konsumsi alkohol berlebihan atau penggunaan narkoba dapat mengurangi kontrol diri dan meningkatkan risiko melakukan hubungan seksual yang tidak aman.

4.     Tidak melakukan douching (membersihkan vagina dengan cairan khusus)

Douching dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di vagina dan justru meningkatkan risiko infeksi menular seksual.

5.     Menyusui dengan hati-hati

Sifilis bisa menular dari orang tua ke bayi melalui ASI jika terdapat luka sifilis di payudara. Untuk mencegah penularan:

6.     Gunakan pompa ASI atau perah ASI dengan tangan jika ada luka di payudara

Jangan menyusui dari payudara yang memiliki luka sampai sembuh

7.     Jika alat pompa menyentuh luka, buang ASI yang sudah dipompa

Penggunaan obat pencegahan pada kelompok berisiko

 

 

 

 

FAQ Sifilis

 

Apakah sifilis termasuk STD atau IMS?

 

Sifilis termasuk infeksi menular seksual (IMS). Istilah IMS dan STD (Sexually Transmitted Disease/Penyakit Menular Seksual) sebenarnya merujuk pada hal yang sama, yaitu penyakit yang menular melalui hubungan seksual tanpa perlindungan. Namun, istilah IMS lebih sering digunakan karena lebih tepat, sebab seseorang bisa terinfeksi tanpa langsung menunjukkan gejala.

 

Apakah sifilis dapat sembuh total?

 

Ya, terutama bila ditangani pada tahap awal dengan terapi yang tepat. Apakah sifilis selalu bergejala? Tidak, banyak kasus tidak menimbulkan gejala pada fase laten.

 

Bisakah saya terkena sifilis lagi setelah diobati?

 

Ya, bisa. Meskipun sudah diobati dan sembuh, seseorang tetap bisa tertular sifilis lagi jika terpapar kembali. Karena itu, penting untuk melakukan hubungan seksual yang aman dan melakukan pemeriksaan rutin jika memiliki risiko tinggi terkena infeksi menular seksual (IMS).

 

Bisakah sifilis menular lewat ciuman?

 

Ya, meskipun jarang, sifilis bisa menular melalui ciuman jika ada kontak langsung dengan luka sifilis di mulut atau bibir.

Risiko terjadi ketika seseorang mencium luka yang terinfeksi. Sifilis juga dapat masuk melalui kulit yang terluka. Karena itu, penting untuk segera melakukan pemeriksaan dan pengobatan jika ada kecurigaan terinfeksi sifilis atau pernah terpapar.

 

Saya hamil dan terkena sifilis, bagaimana melindungi bayi saya?

 

Sifilis saat hamil bisa menular ke bayi dan menyebabkan bayi lahir prematur, berat badan rendah, atau lahir mati. Untuk mencegahnya, lakukan tes sifilis minimal satu kali selama kehamilan dan segera jalani pengobatan jika hasilnya positif. Pengobatan sejak dini sangat penting untuk melindungi kesehatan bayi.

Bayi yang terinfeksi sifilis saat lahir mungkin tidak langsung menunjukkan gejala. Namun, tanpa pengobatan, dalam beberapa minggu bayi bisa mengalami masalah serius seperti gangguan penglihatan (katarak), gangguan pendengaran, kejang, hingga risiko kematian.

Siapa yang bisa terkena sifilis?

 

Siapa pun yang aktif secara seksual bisa terkena sifilis. Namun, risikonya lebih tinggi pada orang yang: Melakukan hubungan seksual tanpa kondom, terutama dengan banyak pasangan, Pria yang berhubungan seks dengan pria, Mengidap HIV, Pernah berhubungan seks dengan orang yang positif sifilis, Pernah terinfeksi IMS lain seperti Klamidia, Gonore, atau Herpes

 

Catatan dari Keapotek

 

Sifilis merupakan infeksi menular seksual yang bisa diobati, tetapi dapat menjadi sangat berbahaya jika tidak segera ditangani karena dapat merusak berbagai organ tubuh dan bahkan menular dari ibu hamil ke bayi. Penyakit ini sering tidak disadari pada tahap awal, namun tetap bisa menular dan berkembang secara bertahap hingga menyebabkan komplikasi serius seperti gangguan saraf, jantung, mata, dan peningkatan risiko HIV. Karena itu, penting bagi siapa pun yang aktif secara seksual untuk lebih waspada, melakukan hubungan seksual yang aman, rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, dan segera mencari pengobatan jika ada kecurigaan terinfeksi. Penanganan sejak dini, kepatuhan terhadap pengobatan, serta keterbukaan kepada pasangan menjadi kunci utama untuk mencegah penyebaran dan dampak jangka panjang sifilis.

 


Source:

https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4622-syphilis

https://www.cdc.gov/syphilis/about/index.html

Sexually transmitted infections (STI)

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/syphilis/symptoms-causes/syc-20351756

 

Tonton melalui youtube

Unggah Resep

INSTAGRAM

 

 

Keranjang Anda

Keranjang anda kosong