Please wait...

IMG-LOGO
Aug 07, 2026 | 10

Sel Darah Merah (Eritrosit)

Sel Darah Merah (Eritrosit): Fungsi, Struktur, Nilai Normal, dan Gangguannya


Sel darah merah merupakan salah satu komponen seluler darah yang jumlahnya mencapai jutaan dalam tubuh vertebrata. Sel ini berperan penting dalam memberikan warna merah khas pada darah sekaligus mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Sel darah merah manusia yang matang memiliki bentuk unik berupa bulat bikonkaf, yaitu cekung di kedua sisi, sehingga tampak seperti dumbbell jika dilihat dari samping. Bentuk tersebut membuatnya fleksibel dan mampu melewati Pembuluh darah  yang sangat kecil dengan mudah.

Selain bentuknya yang khas, sel darah merah juga memiliki struktur yang mendukung fungsinya secara optimal, yaitu:

 

  • Dilapisi membran yang tersusun dari lipid dan protein
  • Tidak memiliki inti sel (nukleus) saat matang
  • Mengandung hemoglobin, protein kaya zat besi berwarna merah yang berfungsi mengikat oksigen

 

Fungsi utama sel darah merah adalah membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh serta mengangkut karbon dioksida, yaitu sisa metabolisme, kembali ke paru-paru untuk dikeluarkan. Proses ini sangat penting agar organ dan jaringan tubuh dapat bekerja dengan baik.

Beberapa keunggulan sel darah merah yang membuat proses pertukaran gas menjadi efisien antara lain:


  • Bentuk bikonkaf memperluas permukaan pertukaran oksigen dan karbon dioksida
  • Struktur yang fleksibel memudahkan sel melewati pembuluh darah kecil
  • Tidak adanya nukleus membuat kebutuhan oksigen sel menjadi lebih rendah sehingga lebih banyak oksigen dapat disalurkan ke jaringan tubuh

Pada hewan invertebrata, pigmen pembawa oksigen berada bebas di dalam plasma darah. Namun pada vertebrata, pigmen tersebut terkonsentrasi di dalam sel darah merah sehingga pengangkutan oksigen dan karbon dioksida berlangsung lebih efektif. Adaptasi ini dianggap sebagai salah satu perkembangan evolusi penting pada sistem peredaran darah vertebrata.

Sel darah merah diproduksi di sumsum tulang melalui proses pembentukan yang disebut eritropoiesis. Proses ini berlangsung secara bertahap, dimulai dari sel induk yang belum matang hingga menjadi sel darah merah dewasa yang siap beredar di dalam pembuluh darah. Selama proses pematangan, sel mengalami berbagai perubahan struktur agar mampu menjalankan fungsi pengangkutan oksigen secara optimal.

Tahapan perkembangan sel darah merah meliputi:


 

  • Hemositoblas
    Sel induk multipotensial yang berasal dari jaringan mesenkim dan menjadi cikal bakal berbagai jenis sel darah.
  • Eritroblas (normoblas)
    Pada tahap ini sel mulai membentuk hemoglobin secara bertahap.
  • Retikulosit
    Merupakan tahap akhir sebelum menjadi sel darah merah matang. Pada fase ini inti sel dan mitokondria mulai menghilang.
  • Sel darah merah matang (eritrosit)
    Sel telah kehilangan inti sehingga memiliki lebih banyak ruang untuk hemoglobin dan lebih efisien membawa oksigen.

 

Selama sekitar dua hingga lima hari perkembangan, eritroblas terus dipenuhi hemoglobin, sedangkan inti sel dan mitokondria menghilang. Adaptasi ini membuat sel darah merah dewasa mampu membawa oksigen lebih maksimal ke seluruh tubuh. Pada manusia, rata-rata sel darah merah hidup selama sekitar 100–120 hari sebelum dihancurkan dan digantikan oleh sel baru. Dalam setiap milimeter kubik darah orang dewasa terdapat sekitar 5,2 juta sel darah merah.

Meskipun sebagian besar sel darah merah berbentuk bulat bikonkaf, terdapat variasi bentuk tertentu yang dapat ditemukan pada kondisi normal maupun penyakit tertentu, antara lain:

 

  • Sebagian kecil orang normal memiliki sel darah merah berbentuk oval
  • Pada anemia pernisiosa, sel darah merah dapat berbentuk oval lebih banyak dari biasanya
  • Pada anemia sel sabit, sel darah merah berbentuk menyerupai bulan sabit
  • Pada akantositosis keturunan, sel darah merah tampak berduri atau tidak beraturan

 

Jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin setiap orang juga dapat berbeda tergantung kondisi tubuh maupun lingkungan. Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain:

 

  • Tinggal di dataran tinggi, yang dapat meningkatkan jumlah sel darah merah karena kadar oksigen lebih rendah
  • Penyakit polisitemia, yaitu kondisi dengan jumlah sel darah merah berlebihan
  • Usia dan tahap perkembangan tubuh

 

Pada bayi baru lahir, jumlah sel darah merah biasanya lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Setelah lahir jumlah tersebut akan menurun sementara, kemudian perlahan meningkat kembali hingga mencapai kadar normal saat masa pubertas.


 

Hubungan Sel Darah Merah dengan Anemia


 

Anemia merupakan kondisi ketika jumlah sel darah merah (eritrosit) atau kadar hemoglobin berada di bawah nilai normal sehingga kemampuan darah dalam mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh berkurang. Akibatnya, penderita dapat mengalami gejala seperti mudah lelah, lemas, pusing, Sesak napas, atau kulit tampak pucat. Anemia dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, antara lain kekurangan zat besi, defisiensi Vitamin b12  atau asam folat, perdarahan kronis, penyakit ginjal, hingga gangguan pada sumsum tulang yang memengaruhi pembentukan sel darah merah.

 

Nilai Normal Sel Darah Merah

 

Jumlah sel darah merah atau eritrosit dalam tubuh dapat berbeda-beda pada setiap orang. Perbedaan ini dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, kondisi kesehatan, hingga lingkungan tempat tinggal. Pemeriksaan jumlah eritrosit biasanya dilakukan melalui tes darah lengkap untuk membantu menilai kondisi kesehatan seseorang.

Nilai Normal Eritrosit pada Pria

Pria umumnya memiliki jumlah sel darah merah lebih tinggi dibandingkan wanita karena dipengaruhi hormon testosteron yang merangsang pembentukan eritrosit.

Nilai normal eritrosit pada pria dewasa berkisar antara:

  • 4,7–6,1 juta sel per mikroliter (mcL) darah

Nilai Normal Eritrosit pada Wanita

Wanita biasanya memiliki jumlah eritrosit sedikit lebih rendah dibandingkan pria. Faktor hormonal dan kehilangan darah saat Menstruasi dapat memengaruhi jumlah sel darah merah.

Nilai normal eritrosit pada wanita dewasa berkisar antara:

  • 4,2–5,4 juta sel per mikroliter (mcL) darah

Perbedaan Jumlah Eritrosit Berdasarkan Usia

Jumlah sel darah merah juga berubah sesuai tahap perkembangan tubuh.

Bayi Baru Lahir

Bayi memiliki jumlah eritrosit lebih tinggi karena membutuhkan lebih banyak oksigen saat masih berada dalam kandungan.

  • Sekitar 4,8–7,1 juta sel/mcL

Anak-anak

Jumlah eritrosit pada anak cenderung lebih rendah dibandingkan bayi dan akan meningkat secara bertahap seiring pertumbuhan.

  • Sekitar 4,1–5,5 juta sel/mcL

Remaja dan Dewasa

Pada masa pubertas, jumlah eritrosit meningkat hingga mencapai kadar normal dewasa, terutama pada laki-laki akibat pengaruh hormon testosteron.

 

Penyebab Jumlah Sel Darah Merah Tinggi

 

Peningkatan jumlah sel darah merah (eritrositosis) dapat terjadi sebagai respons normal tubuh terhadap kondisi tertentu maupun akibat penyakit yang mendasarinya. Beberapa penyebab yang umum meliputi polisitemia vera, dehidrasi berat, penyakit paru kronis yang menyebabkan kadar oksigen rendah, kebiasaan merokok, serta adaptasi terhadap lingkungan dataran tinggi. Jumlah sel darah merah yang terlalu tinggi dapat meningkatkan kekentalan darah sehingga berpotensi meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah dan gangguan sirkulasi.

 

Pemeriksaan Laboratorium Sel Darah Merah

 

Untuk mengetahui kondisi dan fungsi sel darah merah, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium melalui tes darah. Pemeriksaan ini membantu menilai kemampuan darah dalam membawa oksigen serta mendeteksi adanya gangguan, seperti anemia, infeksi, atau kelainan darah lainnya. Beberapa parameter yang sering diperiksa meliputi :

 

·       Hemoglobin (Hb) : Hemoglobin adalah protein dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. Nilai Hb digunakan untuk menilai anemia atau kekurangan darah.

·       Hematokrit (Ht) :Hematokrit menunjukkan persentase sel darah merah dalam total volume darah. Pemeriksaan ini membantu mengetahui kondisi anemia, dehidrasi, atau polisitemia.

·       Eritrosit : mengukur jumlah sel darah merah dalam darah. Nilainya membantu menilai kemampuan tubuh mengangkut oksigen.

·       MCV (Mean Corpuscular Volume) : menunjukkan ukuran rata-rata sel darah merah. Rendah: sel kecil (mikrositik) , tinggi: sel besar (makrositik)

·       MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) : menunjukkan jumlah hemoglobin dalam setiap sel darah merah.

·       MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) : menunjukkan konsentrasi hemoglobin di dalam sel darah merah dan membantu menilai apakah sel tampak pucat atau normal.

·       Retikulosit : Retikulosit adalah sel darah merah muda yang baru diproduksi sumsum tulang. Pemeriksaan ini digunakan untuk menilai pembentukan sel darah merah dalam tubuh.

 

Kapan Harus Segera Menghubungi Dokter?

 

Segera periksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala seperti Sesak napas yang berat atau memburuk, pusing hingga kehilangan kesadaran, nyeri dada, jantung berdebar yang menetap, atau kulit tampak sangat pucat. Selain itu, konsultasi medis juga diperlukan apabila hasil pemeriksaan darah menunjukkan kelainan yang bermakna pada jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin, atau parameter darah lainnya, sehingga penyebabnya dapat dievaluasi dan ditangani secara tepat.

 

FAQ Sel Darah Merah

 

Cara Menjaga Sel Darah Merah Tetap Sehat

 

Menjaga kesehatan sel darah merah penting untuk memastikan tubuh mendapatkan pasokan oksigen yang cukup. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:


Zat besi dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin. Sumber zat besi antara lain daging merah, hati, bayam, kacang-kacangan, dan sayuran hijau.

 


Kedua nutrisi ini membantu proses pembentukan sel darah merah di sumsum tulang. Vitamin B12 banyak ditemukan pada telur, susu, ikan, dan daging, sedangkan folat terdapat pada sayuran hijau dan buah-buahan.

 


Rokok dapat mengurangi kadar oksigen dalam darah dan memengaruhi fungsi sel darah merah.

 

  • Rutin berolahraga 


Aktivitas fisik membantu meningkatkan sirkulasi darah dan mendukung produksi sel darah merah yang sehat.

 

  • Istirahat yang cukup


Tidur dan istirahat yang cukup membantu tubuh menjaga proses pembentukan serta regenerasi sel darah merah secara optimal.

 


Vitamin C membantu penyerapan zat besi dalam tubuh. Buah seperti jeruk, stroberi, dan jambu biji merupakan sumber vitamin C yang baik.

 

  • Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala
    Tes darah rutin dapat membantu mendeteksi gangguan sel darah merah lebih dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

 

Apa yang terjadi jika jumlah sel darah merah terlalu tinggi?

 

Jumlah sel darah merah yang terlalu tinggi dapat membuat darah lebih kental dan meningkatkan risiko gangguan sirkulasi darah.

 

Apa yang terjadi jika jumlah sel darah merah rendah?

 

Jumlah sel darah merah yang rendah dapat menyebabkan anemia dengan gejala seperti lemas, pucat, pusing, dan Sesak napas.

 

Apakah ibu hamil dapat mengalami perubahan jumlah sel darah merah?

 

Ya. Selama kehamilan, volume darah meningkat sehingga kadar sel darah merah dan hemoglobin dapat tampak lebih rendah.

 

Apakah penyakit ginjal dapat memengaruhi pembentukan sel darah merah?

 

Ya. Penyakit ginjal  dapat memengaruhi pembentukan sel darah merah karena ginjal berperan menghasilkan hormon eritropoietin (EPO). Hormon ini berfungsi merangsang sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah. Jika fungsi ginjal terganggu, produksi hormon EPO dapat menurun sehingga pembentukan sel darah merah menjadi berkurang. Kondisi ini dapat menyebabkan anemia, terutama pada penderita penyakit ginjal kronis. Gejalanya dapat berupa mudah lelah, lemas, pucat, dan sesak napas.

 

Berikut versi yang lebih informatif dan sesuai untuk artikel kesehatan:

 

Apakah dehidrasi dapat memengaruhi hasil pemeriksaan eritrosit?

 

Ya. Dehidrasi dapat menyebabkan volume cairan dalam darah berkurang sehingga kadar eritrosit, hemoglobin, dan hematokrit tampak lebih tinggi daripada nilai sebenarnya. Kondisi ini dikenal sebagai peningkatan relatif, bukan karena tubuh memproduksi lebih banyak sel darah merah. Oleh karena itu, hasil pemeriksaan darah sebaiknya diinterpretasikan bersama kondisi klinis pasien dan status hidrasi saat pemeriksaan.

 

Apakah vegetarian berisiko mengalami gangguan eritrosit?

 

Ya, terutama apabila pola makan tidak memenuhi kebutuhan zat besi, vitamin B12, dan asam folat yang berperan penting dalam pembentukan sel darah merah. Risiko ini dapat diminimalkan dengan menerapkan pola makan yang seimbang, mengonsumsi sumber nutrisi yang diperkaya (fortifikasi), atau menggunakan suplemen sesuai anjuran dokter atau ahli gizi apabila diperlukan.

 

Catatan Keapotek

 

Sel darah merah memiliki peran penting dalam menjaga fungsi tubuh karena bertugas membawa oksigen ke seluruh jaringan dan membantu membuang karbon dioksida. Gangguan pada jumlah maupun fungsi sel darah merah dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan dan menimbulkan berbagai keluhan, seperti lemas, pucat, hingga sesak napas. Oleh karena itu, menjaga pola makan bergizi, memenuhi kebutuhan zat besi dan vitamin, serta menjalani gaya hidup sehat sangat penting untuk mendukung pembentukan dan fungsi sel darah merah secara optimal. Jika muncul gejala yang mengarah pada gangguan darah, pemeriksaan medis sebaiknya segera dilakukan agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.

 

Sumber :

Red blood cell | Definition, Functions, & Facts | Britannica

Fungsi Eritrosit (Sel Darah Merah) Beserta Gangguannya

Apa itu dispnea (sesak napas)? Dispnea (Sesak Napas)

Microcytic Anemia and Its Causes

Anemia - Symptoms and causes - Mayo Clinic

Anemia During Pregnancy: Symptoms, Risks & Prevention

Apa yang Harus Anda Ketahui Tentang Anemia

 

 

Your Cart

Your basket is empty