Please wait...

IMG-LOGO
Jul 01, 2026 | 78

IUD

IUD: Jenis, Cara Kerja, Efektivitas & Efek Samping | Keapotek


Alat intrauterin (Intrauterine Device/IUD) adalah salah satu metode kontrasepsi jangka panjang yang efektif untuk mencegah kehamilan. Alat berbentuk kecil ini dipasang oleh tenaga kesehatan ke dalam rahim melalui prosedur yang relatif singkat dan aman. Setelah terpasang, IUD dapat memberikan perlindungan terhadap kehamilan selama beberapa tahun, bahkan hingga 10 tahun atau lebih tergantung pada jenis yang digunakan. Selain memiliki tingkat efektivitas yang tinggi, IUD juga menjadi pilihan banyak perempuan karena praktis dan tidak memerlukan penggunaan harian seperti pil KB. Jika pengguna memutuskan untuk merencanakan kehamilan, IUD dapat dilepas kapan saja oleh penyedia layanan kesehatan, dan kesuburan umumnya dapat kembali dengan cepat setelah alat tersebut dikeluarkan. Pelajari IUD tembaga dan IUD hormonal, manfaat, risiko, efek samping, prosedur pemasangan, serta kapan harus berkonsultasi dengan dokter.


 

Apa itu alat intrauterin (IUD)?

 

Alat intrauterin atau Intrauterine Device (IUD) adalah metode kontrasepsi jangka panjang yang dipasang oleh tenaga kesehatan di dalam rahim untuk mencegah kehamilan. IUD termasuk kontrasepsi reversibel kerja panjang (LARC) yang sangat efektif dan dapat memberikan perlindungan selama tiga hingga 10 tahun, tergantung pada jenisnya. Jika ingin hamil, IUD dapat dilepas kapan saja oleh tenaga kesehatan. Namun, perlu diingat bahwa IUD tidak melindungi dari infeksi menular seksual (IMS), sehingga penggunaan kondom tetap dianjurkan untuk membantu mengurangi risiko penularan IMS.

 

Jenis-Jenis IUD

 

Secara umum, IUD terbagi menjadi dua jenis, yaitu IUD tembaga dan IUD hormonal (levonorgestrel). Keduanya berbentuk huruf “T” dan dipasang di dalam rahim oleh tenaga kesehatan untuk mencegah kehamilan dalam jangka panjang.

 

1.     IUD Tembaga

 

IUD tembaga merupakan jenis IUD yang paling banyak digunakan di Indonesia. Alat ini dililit kawat tembaga yang bekerja menghambat pergerakan sperma sehingga sulit mencapai dan membuahi sel telur. IUD tembaga tidak mengandung hormon dan dapat memberikan perlindungan terhadap kehamilan hingga 10 tahun atau lebih, tergantung jenisnya. Beberapa produk yang beredar di Indonesia antara lain CuT 380A dan Nova T.

 

2.     IUD Hormonal (Levonorgestrel)

 

IUD hormonal mengandung hormon levonorgestrel, yaitu bentuk sintetis dari hormon progesteron. Hormon ini bekerja dengan mengentalkan lendir serviks, menipiskan lapisan rahim, dan menghambat pergerakan sperma sehingga kehamilan dapat dicegah. Di Indonesia, salah satu merek IUD hormonal yang tersedia adalah Mirena®, yang dapat digunakan hingga 5–8 tahun sesuai rekomendasi terbaru dan kondisi pengguna.

Kedua jenis IUD dilengkapi benang kecil yang menjulur ke vagina untuk memudahkan pemeriksaan dan pelepasan oleh tenaga kesehatan. Selain itu, posisi IUD dapat dipantau melalui pemeriksaan medis untuk memastikan alat tetap berada pada tempat yang tepat di dalam rahim.

 

Seberapa sering IUD digunakan?

 

Meskipun IUD merupakan salah satu metode kontrasepsi jangka panjang yang sangat efektif, penggunaannya di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan metode kontrasepsi lain seperti suntik dan pil KB. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 6% pasangan usia subur yang menggunakan kontrasepsi modern memilih IUD pada tahun 2024. Meski demikian, IUD tetap menjadi salah satu pilihan utama dalam kelompok Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) karena praktis, efektif, dan dapat memberikan perlindungan selama bertahun-tahun tanpa perlu penggunaan rutin setiap hari.

 

Siapa yang Tidak Boleh Menggunakan IUD?

 

Meskipun IUD merupakan metode kontrasepsi yang aman dan efektif bagi banyak wanita, ada beberapa kondisi yang membuat penggunaannya tidak dianjurkan. Sebelum memilih IUD, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan guna memastikan metode ini sesuai dengan kondisi kesehatan Anda.

Secara umum, IUD tidak dianjurkan bagi wanita yang:

  • Sedang hamil.
  • Memiliki infeksi menular seksual (IMS) yang aktif.
  • Berisiko tinggi tertular IMS.
  • Menderita kanker serviks atau kanker rahim.
  • Mengalami perdarahan vagina yang belum diketahui penyebabnya.

Selain itu, terdapat beberapa kondisi khusus yang perlu diperhatikan berdasarkan jenis IUD yang digunakan:

 

IUD tembaga tidak dianjurkan untuk wanita yang:

 

  • Memiliki alergi terhadap tembaga.
  • Menderita penyakit Wilson, yaitu Kelainan genetik yang menyebabkan penumpukan tembaga di dalam tubuh.

 

IUD hormonal tidak dianjurkan untuk wanita yang:

 

  • Mengalami penyakit hati yang berat.
  • Menderita Kanker payudara .
  • Memiliki risiko tinggi terkena kanker payudara.

 

Karena setiap wanita memiliki kondisi kesehatan yang berbeda, pemeriksaan dan konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan jenis kontrasepsi yang paling aman dan sesuai.

 

Bagaimana Cara Kerja IUD?

 

IUD bekerja dengan menciptakan kondisi di dalam rahim yang mencegah terjadinya kehamilan. Setelah dipasang, tubuh akan mengenali IUD sebagai benda asing dan memicu respons alami berupa peradangan ringan di dalam rahim. Kondisi ini membuat lingkungan rahim menjadi tidak ideal bagi sperma, sehingga sperma sulit mencapai sel telur untuk melakukan pembuahan.

Meskipun memiliki tujuan yang sama, IUD tembaga dan IUD hormonal bekerja dengan cara yang sedikit berbeda:

 

IUD tembaga

  • Melepaskan ion tembaga yang bersifat mengganggu pergerakan dan fungsi sperma.
  • Meningkatkan respons peradangan di dalam rahim sehingga sperma sulit bertahan hidup.
  • Membuat proses pembuahan menjadi sangat kecil kemungkinannya terjadi.
  • Jika pembuahan terjadi, kondisi lapisan rahim menjadi kurang mendukung untuk implantasi embrio.

 

IUD hormonal

  • Melepaskan hormon levonorgestrel dalam jumlah kecil secara bertahap.
  • Mengentalkan lendir serviks sehingga sperma lebih sulit masuk ke dalam rahim dan mencapai sel telur.
  • Menipiskan lapisan rahim (endometrium), sehingga kurang mendukung terjadinya kehamilan.
  • Pada sebagian wanita, dapat menekan atau menghambat pelepasan sel telur (ovulasi).

 

Jumlah hormon yang dilepaskan dapat berbeda pada setiap jenis IUD hormonal. Oleh karena itu, tenaga kesehatan akan membantu menentukan jenis IUD yang paling sesuai dengan kebutuhan, kondisi kesehatan, dan rencana kehamilan di masa mendatang.

 

Berapa Lama IUD Dapat Digunakan?

 

Lama penggunaan IUD bergantung pada jenis dan merek yang digunakan. Di Indonesia, jenis IUD yang paling umum tersedia adalah IUD tembaga (CuT 380A) dan IUD hormonal Mirena®. Keduanya merupakan metode kontrasepsi jangka panjang yang efektif dan dapat dilepas kapan saja jika pengguna ingin merencanakan kehamilan.

 

Secara umum, masa pakai IUD yang beredar di Indonesia adalah:

 

  • IUD tembaga (CuT 380A): efektif mencegah kehamilan hingga 10 tahun.
  • IUD hormonal Mirena®: efektif mencegah kehamilan hingga 8 tahun sesuai pembaruan rekomendasi penggunaan.
  •  

Dokter atau tenaga kesehatan dapat memberikan rekomendasi yang paling sesuai berdasarkan usia, kondisi kesehatan, dan kebutuhan kontrasepsi masing-masing pengguna.

 

Bagaimana IUD Dipasang?

 

Pemasangan IUD hanya dapat dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan terlatih. Sebelum prosedur dilakukan, tenaga kesehatan akan memastikan bahwa Anda merupakan kandidat yang sesuai untuk menggunakan IUD.

 

Sebelum pemasangan, biasanya dilakukan:

  • Konsultasi mengenai riwayat kesehatan dan pilihan jenis IUD.
  • Tes kehamilan bila diperlukan.
  • Pemeriksaan panggul  atau skrining infeksi menular seksual (IMS) pada kondisi tertentu.
  • Diskusi mengenai cara mengurangi rasa nyeri atau ketidaknyamanan selama prosedur.

 

Selama pemasangan, prosedur umumnya berlangsung sekitar 5–15 menit dan meliputi:

  • Berbaring pada meja pemeriksaan dengan posisi yang sama seperti saat pemeriksaan Pap smear.
  • Pemasangan spekulum untuk membantu dokter melihat serviks.
  • Pemberian anestesi lokal bila diperlukan.
  • Pemasukan IUD ke dalam rahim melalui serviks menggunakan alat khusus.

Sebagian wanita dapat merasakan kram ringan hingga sedang selama proses pemasangan, tetapi keluhan ini biasanya bersifat sementara.

Apa yang Terjadi Setelah Pemasangan IUD?

Setelah IUD dipasang, beberapa wanita mungkin tidak mengalami keluhan apa pun, sementara yang lain dapat merasakan efek samping ringan yang akan membaik dalam beberapa hari.

Efek yang umum terjadi meliputi:

  • Kram atau nyeri perut ringan.
  • Bercak perdarahan (spotting).
  • Rasa tidak nyaman pada area panggul.
  • Perubahan pola Menstruasi, terutama pada beberapa bulan pertama penggunaan.

Untuk membantu pemulihan, Anda dapat beristirahat setelah prosedur dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Jika muncul nyeri hebat, perdarahan yang sangat banyak, atau gejala yang tidak biasa, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.

 

Seberapa Cepat IUD Mulai Bekerja?

 

Kecepatan IUD dalam mencegah kehamilan bergantung pada jenis yang digunakan. IUD tembaga (CuT 380A) mulai bekerja segera setelah dipasang sehingga dapat langsung memberikan perlindungan terhadap kehamilan. Sementara itu, IUD hormonal, seperti Mirena®, dapat langsung efektif jika dipasang saat menstruasi. Jika dipasang di luar periode menstruasi, biasanya diperlukan waktu hingga tujuh hari untuk memberikan perlindungan optimal. Selama masa tersebut, disarankan untuk menggunakan metode kontrasepsi tambahan, seperti kondom.

 

Seberapa Efektif IUD dalam Mencegah Kehamilan?

 

IUD merupakan salah satu metode kontrasepsi yang paling efektif. Dengan tingkat efektivitas lebih dari 99%, IUD mampu memberikan perlindungan jangka panjang terhadap kehamilan dengan risiko kegagalan yang sangat rendah. Karena sifatnya yang reversibel, kesuburan umumnya dapat kembali setelah IUD dilepas.

 

Apa Keuntungan Menggunakan IUD?

 

Selain efektif, IUD menawarkan berbagai keuntungan yang menjadikannya pilihan kontrasepsi bagi banyak wanita, antara lain:

  • Memiliki tingkat keberhasilan lebih dari 99% dalam mencegah kehamilan.
  • Memberikan perlindungan jangka panjang tanpa perlu penggunaan harian.
  • Tidak perlu mengingat jadwal minum pil atau suntik kontrasepsi secara berkala.
  • Dapat dilepas kapan saja jika ingin merencanakan kehamilan atau beralih ke metode kontrasepsi lain.
  • Praktis dan tidak mengganggu aktivitas seksual.
  • Membutuhkan perawatan yang minimal setelah pemasangan.
  • Biaya penggunaan dalam jangka panjang cenderung lebih hemat dibandingkan beberapa metode kontrasepsi lainnya.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan IUD dapat dikaitkan dengan penurunan risiko beberapa kondisi ginekologis tertentu, meskipun manfaat ini masih terus diteliti lebih lanjut.

 

Keuntungan Tambahan IUD Hormonal

 

Selain mencegah kehamilan, IUD hormonal seperti Mirena® juga dapat memberikan manfaat kesehatan lainnya, antara lain:

  • Mengurangi perdarahan menstruasi yang berlebihan.
  • Membantu meredakan nyeri haid.
  • Dapat mengurangi keluhan nyeri yang berkaitan dengan endometriosis.
  • Pada sebagian wanita, menstruasi menjadi lebih ringan atau bahkan berhenti sementara selama penggunaan.

 

Keuntungan Tambahan IUD Tembaga

 

IUD tembaga (CuT 380A) tidak mengandung hormon sehingga dapat menjadi pilihan bagi wanita yang tidak ingin atau tidak dapat menggunakan kontrasepsi hormonal. Selain itu, IUD tembaga juga dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat jika dipasang dalam waktu hingga lima hari setelah hubungan seksual tanpa perlindungan, sehingga dapat membantu mencegah terjadinya kehamilan.

 

Apa Efek Samping dan Risiko Penggunaan IUD?

 

Seperti metode kontrasepsi lainnya, IUD dapat menimbulkan efek samping tertentu, terutama pada beberapa bulan pertama setelah pemasangan. Namun, sebagian besar efek samping ini bersifat sementara dan akan berkurang seiring tubuh beradaptasi dengan alat kontrasepsi tersebut.

 

Efek samping yang dapat terjadi meliputi:

 

Pada IUD tembaga (CuT 380A):

 

  • Menstruasi menjadi lebih banyak atau lebih lama.
  • Kram menstruasi terasa lebih kuat dari biasanya.
  • Muncul bercak perdarahan di antara periode menstruasi.

 

Pada IUD hormonal (Mirena®):

 

  • Menstruasi menjadi tidak teratur pada beberapa bulan pertama.
  • Perdarahan menstruasi menjadi lebih ringan.
  • Sebagian wanita dapat mengalami tidak menstruasi sama sekali (amenore).
  • Muncul bercak atau flek di luar jadwal menstruasi.

 

Selain itu, benang IUD yang menjulur ke vagina terkadang dapat terasa oleh pengguna atau pasangan saat berhubungan seksual. Namun, benang tersebut biasanya akan melunak seiring waktu sehingga tidak lagi menimbulkan ketidaknyamanan.

Sebagian besar wanita yang menggunakan IUD tetap mengalami ovulasi setiap bulan. Pada beberapa kasus, proses ini dapat menyebabkan terbentuknya kista ovarium fungsional, yaitu kantung berisi cairan pada ovarium yang umumnya tidak berbahaya dan sering kali menghilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.

 

Apa Risiko Penggunaan IUD?

 

IUD termasuk metode kontrasepsi yang aman dan efektif. Namun, meskipun jarang terjadi, beberapa komplikasi berikut tetap dapat muncul:

 

  • Pengeluaran IUD (ekspulsi), yaitu kondisi ketika IUD bergeser atau keluar sebagian maupun seluruhnya dari rahim. Risiko ini lebih sering terjadi dalam beberapa bulan pertama setelah pemasangan.
  • Perforasi rahim, yaitu tertusuknya dinding rahim saat proses pemasangan. Komplikasi ini sangat jarang terjadi, tetapi memerlukan penanganan medis segera.
  • Kehamilan saat menggunakan IUD, yang meskipun jarang, memiliki risiko komplikasi lebih tinggi dibandingkan kehamilan biasa.
  • Infeksi panggul, yang dapat terjadi jika bakteri masuk ke dalam rahim selama proses pemasangan. Risiko infeksi paling tinggi terjadi dalam beberapa minggu pertama setelah prosedur.

 

Segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika mengalami nyeri panggul yang berat, perdarahan yang tidak biasa, demam, keputihan berbau tidak sedap, atau jika benang IUD tidak lagi terasa saat diperiksa. Pemeriksaan rutin dapat membantu memastikan IUD tetap berada pada posisi yang tepat dan berfungsi dengan baik.

 

Kapan Harus Segera Menghubungi Dokter ?

 

nyeri panggul berat, demam, keputihan berbau, perdarahan sangat banyak, dugaan kehamilan, atau benang IUD tidak dapat diraba.

 

Informasi Tambahan

 

IUD termasuk metode kontrasepsi reversibel jangka panjang dengan tingkat kepuasan pengguna yang tinggi. Banyak organisasi kesehatan internasional merekomendasikan IUD sebagai pilihan kontrasepsi lini pertama bagi wanita yang menginginkan perlindungan jangka panjang.

 

 

FAQ IUD

 

Apakah IUD dapat digunakan oleh wanita yang belum pernah melahirkan?


Ya. IUD dapat digunakan oleh wanita yang belum pernah melahirkan maupun yang sudah memiliki anak. Pemilihan jenis IUD akan disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan masing-masing individu.

 

Kapan waktu terbaik untuk memasang IUD?


IUD dapat dipasang kapan saja selama dipastikan tidak sedang hamil. Namun, pemasangan sering dilakukan saat atau segera setelah menstruasi karena serviks cenderung lebih terbuka sehingga prosedur dapat lebih nyaman.

 

Apakah pengguna IUD masih perlu melakukan pemeriksaan rutin?


Ya. Meskipun tidak memerlukan perawatan harian, pengguna IUD tetap dianjurkan menjalani kontrol sesuai anjuran tenaga kesehatan untuk memastikan posisi IUD tetap baik dan tidak menimbulkan masalah.

 

Apakah penggunaan IUD dapat memengaruhi berat badan?


Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa IUD, terutama IUD tembaga, tidak menyebabkan kenaikan berat badan secara langsung. Perubahan berat badan yang terjadi biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti pola makan, aktivitas fisik, dan perubahan hormon alami tubuh.

 

Apakah pasangan dapat merasakan IUD saat berhubungan seksual?


IUD berada di dalam rahim sehingga umumnya tidak dapat dirasakan saat berhubungan seksual. Namun, pada beberapa kasus pasangan mungkin merasakan benang IUD yang berada di dekat serviks.

 

Bagaimana cara mengetahui bahwa IUD masih terpasang dengan baik?


Pengguna dapat memeriksa benang IUD secara berkala sesuai petunjuk tenaga kesehatan. Jika benang terasa lebih pendek, lebih panjang, atau tidak teraba sama sekali, segera lakukan pemeriksaan.

 

Catatan Keapotek

 

IUD merupakan salah satu metode kontrasepsi jangka panjang yang paling efektif dan dapat digunakan oleh banyak wanita, termasuk ibu menyusui dan wanita yang belum pernah melahirkan. Dengan tingkat efektivitas lebih dari 99%, IUD menawarkan perlindungan kehamilan yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun tanpa memerlukan perhatian harian. Namun, setiap wanita memiliki kondisi kesehatan, kebutuhan, dan preferensi yang berbeda. Oleh karena itu, pemilihan jenis IUD sebaiknya dilakukan melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan agar manfaat dan risikonya dapat dipertimbangkan secara tepat. Selain itu, perlu diingat bahwa IUD tidak melindungi dari infeksi menular seksual (IMS), sehingga penggunaan kondom tetap dianjurkan bagi mereka yang berisiko terpapar IMS. Pemahaman yang baik mengenai cara kerja, manfaat, efek samping, dan prosedur pemasangan IUD dapat membantu wanita membuat keputusan kontrasepsi yang lebih tepat dan sesuai dengan kebutuhan reproduksinya.

 

Sumber :

Intrauterine Device (IUD): Birth Control, Use & Side Effects

Intrauterine Contraception | Contraception | CDC

Intrauterine devices (IUDs)


 

  Tonton melalui youtube

 

 

Your Cart

Your basket is empty