Mohon tunggu...

IMG-LOGO
Agt 07, 2026 | 6

Sel Darah Putih (Leukosit)

Sel Darah Putih (Leukosit) - Fungsi, Jenis, Pemeriksaan & Penyakit


Sel darah putih atau leukosit merupakan komponen seluler darah yang tidak memiliki hemoglobin, tetapi memiliki inti sel (nukleus) dan kemampuan bergerak secara aktif di dalam Pembuluh darah  maupun jaringan tubuh. Sel ini berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh karena membantu melindungi tubuh dari berbagai infeksi, penyakit, serta zat asing yang berbahaya. Sel darah putih bekerja dengan berbagai cara, seperti menelan dan menghancurkan kuman atau puing-puing seluler (fagositosis), melawan sel yang terinfeksi dan sel kanker, serta memproduksi antibodi untuk membantu tubuh mengenali dan menyerang mikroorganisme penyebab penyakit. Jumlah dan fungsi sel darah putih yang normal sangat penting untuk menjaga daya tahan tubuh agar tetap optimal.


 

Karakteristik Sel Darah Putih

 

Sel darah putih atau leukosit merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh yang berfungsi melindungi tubuh dari infeksi, peradangan, dan berbagai penyakit. Berbeda dengan sel darah merah, sel darah putih memiliki inti sel (nukleus), mampu bergerak aktif, dan dapat berpindah ke jaringan tubuh untuk melawan zat asing maupun mikroorganisme penyebab penyakit. Sebagian besar sel darah putih tidak hanya berada di aliran darah, tetapi juga tersebar di berbagai jaringan tubuh tempat mereka menjalankan fungsi pertahanan tubuh secara langsung.

 

Produksi dan Jenis Sel Darah Putih

 

Sel darah putih diproduksi di beberapa organ tubuh dengan proporsi yang berbeda-beda, yaitu:

  • Sumsum tulang menghasilkan sekitar 60–70% sel darah putih, terutama jenis granulosit.
  • Jaringan limfatik seperti timus, limpa, dan kelenjar getah bening menghasilkan limfosit yang mencakup sekitar 20–30% dari total sel darah putih.
  • Jaringan retikuloendotel di limpa, hati, kelenjar getah bening, dan organ lainnya menghasilkan monosit sekitar 4–8%.

Pada orang dewasa yang sehat, jumlah sel darah putih berkisar antara 4.500–11.000 sel per milimeter kubik darah. Jumlah ini dapat berubah sepanjang hari, di mana kadar sel darah putih biasanya lebih rendah saat tubuh beristirahat dan meningkat selama aktivitas fisik atau Olahraga.

 

Karakteristik dan Fungsi Sel Darah Putih

 

Sebagai sel hidup yang aktif, sel darah putih memerlukan energi yang terus-menerus untuk bertahan hidup dan menjalankan fungsinya. Proses metabolisme sel darah putih lebih kompleks dibandingkan sel darah merah dan menyerupai sel jaringan tubuh lainnya. Karena memiliki nukleus dan mampu menghasilkan asam ribonukleat (RNA), sel darah putih dapat mensintesis protein yang diperlukan dalam proses pertahanan tubuh.

Beberapa karakteristik penting sel darah putih meliputi:

  • Memiliki inti sel (nukleus)
  • Dapat bergerak aktif menuju area infeksi
  • Mampu mensintesis protein
  • Berperan dalam melawan infeksi dan zat asing
  • Sebagian besar bekerja di jaringan tubuh, bukan hanya di aliran darah
  • Memiliki fungsi khusus sesuai jenisnya

Sebagian besar sel darah putih tidak mengalami pembelahan sel (mitosis) di dalam aliran darah, meskipun beberapa jenis masih mempertahankan kemampuan tersebut.

 

Kelas Utama Sel Darah Putih

 

Sel darah putih atau leukosit terdiri dari beberapa jenis utama yang memiliki fungsi berbeda dalam menjaga sistem kekebalan tubuh. Secara umum, sel darah putih dibagi menjadi limfosit, granulosit, dan monosit. Masing-masing jenis bekerja sama untuk mengenali, menyerang, dan menghancurkan mikroorganisme penyebab penyakit maupun zat asing yang masuk ke dalam tubuh.

 

1. Limfosit

 

Limfosit merupakan jenis sel darah putih yang berperan dalam pengenalan spesifik terhadap agen asing serta membantu proses penghancurannya dari dalam tubuh. Limfosit dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu sel B dan sel T.

Beberapa fungsi limfosit antara lain:

  • Sel B menghasilkan antibodi, yaitu protein yang dapat mengikat mikroorganisme asing di jaringan tubuh dan membantu proses penghancurannya.
  • Sel T berfungsi mengenali dan menghancurkan sel yang terinfeksi virus maupun sel kanker.
  • Sebagian sel T juga bertindak sebagai sel pembantu yang membantu sel B dalam memproduksi antibodi.
  • Kelompok limfosit juga mencakup sel pembunuh alami (Natural Killer/NK) yang memiliki kemampuan alami untuk membunuh berbagai jenis sel target yang berbahaya bagi tubuh.

Pada orang sehat, limfosit mencakup sekitar 25–33 persen dari total sel darah putih.

 

2. Granulosit

 

Granulosit merupakan jenis sel darah putih yang jumlahnya paling banyak di dalam tubuh. Sel ini berperan penting dalam melindungi tubuh dari organisme patogen berukuran besar seperti protozoa dan cacing, serta menjadi mediator utama dalam reaksi alergi dan berbagai proses peradangan.

Granulosit memiliki banyak butiran sitoplasma atau vesikel sekretori yang berisi bahan kimia penting untuk respons imun tubuh. Selain itu, granulosit memiliki inti sel berlobus banyak sehingga sering disebut sebagai sel polimorfonuklear.

Berdasarkan kemampuan butirannya menyerap pewarna di laboratorium, granulosit dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

  • Neutrofil
  • Eosinofil
  • Basofil

 

Neutrofil

 

Neutrofil merupakan granulosit yang paling banyak jumlahnya, yaitu sekitar 50–80 persen dari seluruh sel darah putih. Sel ini biasanya menjadi salah satu sel pertama yang tiba di lokasi infeksi. Neutrofil bekerja dengan cara menelan dan menghancurkan mikroorganisme penyebab infeksi melalui proses yang disebut fagositosis.

 

Eosinofil

 

Eosinofil berperan dalam menghancurkan parasit serta membantu mengatur dan memodulasi respons peradangan di dalam tubuh.

 

Basofil

 

Basofil berperan dalam reaksi alergi dan proses inflamasi. Butiran pada basofil mengandung berbagai bahan kimia penting seperti histamin dan leukotrien yang membantu memicu respons alergi. Basofil memiliki hubungan erat dengan sel jaringan yang disebut sel mast, yang juga berfungsi dalam mekanisme alergi tubuh.

Dengan berbagai jenis dan fungsi khususnya, sel darah putih bekerja secara terkoordinasi untuk mempertahankan tubuh dari infeksi, alergi, maupun berbagai gangguan kesehatan lainnya.

 

3.Monosit

 

Monosit merupakan salah satu jenis sel darah putih yang jumlahnya sekitar 4–8 persen dari total sel darah putih di dalam darah. Sel ini memiliki peran penting dalam sistem kekebalan tubuh, terutama dalam melawan infeksi dan membersihkan jaringan tubuh dari zat asing maupun sisa-sisa sel yang rusak.

Monosit bergerak dari aliran darah menuju lokasi infeksi atau peradangan. Setelah mencapai jaringan tubuh, monosit akan berdiferensiasi menjadi makrofag, yaitu sel berukuran besar yang berfungsi sebagai “pembersih” tubuh. Makrofag bekerja dengan cara memfagositosis atau menelan mikroorganisme, patogen, serta puing-puing seluler sehingga membantu membersihkan area infeksi.

Beberapa fungsi utama monosit dan makrofag meliputi:

  • Bergerak menuju lokasi infeksi dari aliran darah
  • Berdiferensiasi menjadi makrofag di jaringan tubuh
  • Menelan dan menghancurkan mikroorganisme melalui proses fagositosis
  • Membersihkan sisa-sisa sel dan puing-puing jaringan
  • Membantu penghancuran langsung patogen penyebab penyakit

Neutrofil dan makrofag merupakan dua jenis utama sel fagositik dalam tubuh. Namun, makrofag memiliki ukuran yang lebih besar dan usia hidup yang lebih panjang dibandingkan neutrofil sehingga mampu bekerja lebih lama di area infeksi.

Selain berfungsi sebagai sel pemakan patogen, beberapa makrofag juga berperan sebagai sel penyaji antigen. Sel ini akan memfagositosis dan mendegradasi mikroba, kemudian menampilkan bagian dari mikroorganisme tersebut kepada limfosit T. Proses ini membantu mengaktifkan respons imun spesifik atau kekebalan tubuh yang didapat sehingga tubuh dapat mengenali dan melawan infeksi secara lebih efektif.

 

Penyakit Sel Darah Putih

 

Setiap jenis sel darah putih memiliki fungsi khusus dalam sistem kekebalan tubuh sehingga gangguan pada jenis sel tertentu dapat dikaitkan dengan penyakit yang berbeda. Pada bayi baru lahir, jumlah sel darah putih umumnya lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Seiring pertumbuhan anak, jumlah tersebut akan menurun secara bertahap hingga mencapai kadar normal orang dewasa. Namun, jumlah limfosit memiliki pola yang berbeda. Kadar limfosit cenderung rendah saat lahir, meningkat selama empat tahun pertama kehidupan, kemudian perlahan menurun hingga mencapai tingkat stabil pada masa dewasa.

 

Leukositosis

 

Peningkatan jumlah sel darah putih secara abnormal disebut leukositosis. Kondisi ini biasanya terjadi akibat peningkatan jumlah granulosit, terutama neutrofil, termasuk beberapa sel yang masih belum matang (mielosit).

Leukositosis dapat terjadi sebagai respons terhadap berbagai kondisi, antara lain:

  • Aktivitas fisik yang berat
  • Kejang
  • Reaksi emosional akut
  • Nyeri
  • Kehamilan dan persalinan
  • Infeksi
  • Keracunan

Pada beberapa kondisi, peningkatan jumlah sel darah putih merupakan mekanisme tubuh dalam melawan infeksi atau stres fisik.

 

Leukemia

 

Peningkatan jumlah sel darah putih yang sangat tinggi di dalam darah atau sumsum tulang dapat menjadi tanda leukemia, yaitu kanker pada jaringan pembentuk darah. Beberapa jenis leukemia diketahui berhubungan dengan paparan radiasi, seperti yang pernah ditemukan pada penduduk Jepang yang terpapar bom atom di Hiroshima. Selain itu, faktor keturunan juga diduga berperan dalam meningkatkan risiko penyakit ini.

Leukemia dibedakan berdasarkan perjalanan penyakit dan jenis sel darah putih yang dominan terlibat. Salah satu contohnya adalah:

  • Leukemia myelogenous, yang memengaruhi granulosit dan monosit, yaitu sel darah putih yang berfungsi menghancurkan bakteri dan beberapa jenis parasit.

 

Leukopenia

 

Kondisi ketika jumlah sel darah putih menurun secara abnormal disebut leukopenia. Penurunan jumlah leukosit dapat terjadi akibat berbagai faktor, seperti:

  • Infeksi tertentu
  • Penggunaan obat-obatan tertentu
  • Anemia kronis
  • Kekurangan gizi
  • Anafilaksis

Leukopenia dapat menyebabkan daya tahan tubuh menurun sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi.

 

Limfositosis dan Infeksi Virus

 

Beberapa jenis infeksi ditandai dengan peningkatan jumlah limfosit kecil tanpa disertai peningkatan monosit atau granulosit. Kondisi ini disebut limfositosis dan umumnya disebabkan oleh infeksi virus.

Limfositosis tingkat sedang juga dapat ditemukan pada beberapa infeksi kronis, seperti:

  • Tuberkulosis
  • Brucellosis

Sementara itu, mononukleosis menular yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr sering dikaitkan dengan munculnya limfosit berukuran besar yang disebut limfosit atipikal. Sel-sel ini merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh terhadap virus dan biasanya akan menghilang dari darah setelah infeksi mereda.

 

Tabel Ringkas Interpretasi Hasil Leukosit

 

Kondisi

Temuan

Kemungkinan Penyebab

Leukositosis

Leukosit meningkat

Infeksi, inflamasi, stres, leukemia

Leukopenia

Leukosit menurun

Infeksi tertentu, obat, gangguan sumsum tulang

Limfositosis

Limfosit meningkat

Infeksi virus

 

Interaksi Obat dan Pengaruhnya terhadap Leukosit

 

Beberapa jenis obat diketahui dapat memengaruhi jumlah sel darah putih (leukosit), baik dengan meningkatkan maupun menurunkannya. Obat-obatan seperti kemoterapi, kortikosteroid, obat antitiroid tertentu, serta beberapa antibiotik dan obat antikejang dapat memengaruhi proses pembentukan, distribusi, atau fungsi leukosit di dalam tubuh. Oleh karena itu, pasien yang sedang menjalani terapi dengan obat-obatan tersebut mungkin memerlukan pemeriksaan darah secara berkala untuk memantau jumlah leukosit. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan perubahan yang bermakna atau disertai gejala seperti demam, infeksi berulang, atau mudah sakit, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi dan penanganan yang sesuai.

 

Pemeriksaan Laboratorium Sel Darah Putih

 

Pemeriksaan laboratorium sel darah putih merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai jumlah, jenis, dan kondisi leukosit di dalam darah. Pemeriksaan ini penting karena sel darah putih berperan dalam sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi, peradangan, alergi, hingga berbagai gangguan darah. Melalui pemeriksaan laboratorium, dokter dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi kesehatan seseorang serta membantu menegakkan diagnosis penyakit tertentu.

Pemeriksaan sel darah putih biasanya menjadi bagian dari pemeriksaan darah lengkap atau Complete Blood Count (CBC) dan dilakukan menggunakan sampel darah vena yang diambil dari lengan pasien.

 

Jenis Pemeriksaan Laboratorium Sel Darah Putih

 

1. Hitung Leukosit Total

 

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui jumlah total sel darah putih dalam darah. Nilai normal leukosit pada orang dewasa umumnya berkisar antara:

  • 4.500–11.000 sel/mm³ darah

Hasil pemeriksaan dapat menunjukkan:

  • Leukositosis : peningkatan jumlah sel darah putih
  • Leukopenia : penurunan jumlah sel darah putih

Perubahan jumlah leukosit dapat berkaitan dengan infeksi, peradangan, stres, gangguan imun, hingga penyakit darah.

 

2. Hitung Jenis Leukosit (Differential Count)

 

Pemeriksaan diferensial leukosit dilakukan untuk mengetahui persentase masing-masing jenis sel darah putih di dalam darah. Jenis leukosit yang diperiksa meliputi:

  • Neutrofil
  • Limfosit
  • Monosit
  • Eosinofil
  • Basofil

Pemeriksaan ini membantu menentukan kemungkinan penyebab penyakit berdasarkan jenis leukosit yang mengalami peningkatan atau penurunan.

Contohnya:

  • Neutrofil meningkat sering terjadi pada infeksi bakteri
  • Limfosit meningkat sering ditemukan pada infeksi virus
  • Eosinofil meningkat dapat terjadi pada ALERGI atau infeksi parasit

 

3. Pemeriksaan Apusan Darah Tepi

 

Pada pemeriksaan ini, sampel darah dioleskan tipis pada kaca objek, kemudian diberi pewarna khusus dan diamati menggunakan mikroskop. Pemeriksaan apusan darah tepi bertujuan untuk melihat:

  • Bentuk dan ukuran sel darah putih
  • Jumlah masing-masing jenis leukosit
  • Adanya sel abnormal atau sel muda
  • Kelainan  yang mengarah pada leukemia atau gangguan darah lainnya

Pemeriksaan ini membantu memberikan gambaran morfologi sel darah putih secara lebih detail.

 

4. Pemeriksaan Sumsum Tulang

 

Pada kondisi tertentu, terutama jika dicurigai adanya leukemia atau gangguan pembentukan sel darah, dokter dapat melakukan pemeriksaan sumsum tulang. Sampel sumsum tulang biasanya diambil dari tulang panggul menggunakan jarum khusus.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk:

  • Menilai proses pembentukan sel darah putih
  • Mendeteksi KANKER DARAH seperti leukemia
  • Mengetahui gangguan sumsum tulang

 

Prosedur Pemeriksaan

 

Pemeriksaan laboratorium sel darah putih umumnya dilakukan melalui beberapa tahapan berikut:

1.     Pengambilan sampel darah vena

2.     Analisis menggunakan alat hematologi otomatis

3.     Pemeriksaan mikroskopis bila diperlukan

4.     Interpretasi hasil oleh tenaga medis atau dokter

Sebagian besar pemeriksaan tidak memerlukan persiapan khusus, kecuali bila dilakukan bersamaan dengan tes lain yang memerlukan puasa.

 

Faktor yang Memengaruhi Hasil Pemeriksaan

 

Beberapa kondisi dapat memengaruhi jumlah dan hasil pemeriksaan sel darah putih, antara lain:

  • Infeksi
  • Peradangan
  • Stres fisik maupun emosional
  • Aktivitas fisik berat
  • Kehamilan
  • Penggunaan obat tertentu
  • Gangguan sistem imun

Oleh karena itu, hasil pemeriksaan laboratorium harus dievaluasi bersama gejala klinis dan pemeriksaan lainnya agar diagnosis lebih tepat.

 

Kapan Harus Segera Menghubungi Dokter?

 

Segera konsultasikan dengan dokter apabila muncul demam tinggi yang tidak membaik, infeksi berulang, Penurunan Berat Badan  tanpa sebab yang jelas, pembengkakan kelenjar getah bening, memar atau perdarahan yang tidak biasa, serta hasil pemeriksaan leukosit yang sangat tinggi atau sangat rendah.

 

FAQ Sel darah putih

 

Kapan pemeriksaan sel darah putih diperlukan?

 

Pemeriksaan leukosit biasanya dilakukan ketika seseorang mengalami:

  • Demam atau tanda infeksi
  • Peradangan
  • Kelelahan berkepanjangan
  • Dugaan gangguan darah
  • Pemantauan efek pengobatan tertentu

 

Apa hubungan sel darah putih dengan leukemia?

 

Leukemia adalah kanker pada jaringan pembentuk darah yang menyebabkan produksi sel darah putih abnormal dalam jumlah berlebihan dan mengganggu fungsi normal sistem kekebalan tubuh.

 

Bagaimana cara menjaga kesehatan sel darah putih?

 

Beberapa cara menjaga kesehatan sel darah putih antara lain:

  • Mengonsumsi makanan bergizi
  • Istirahat yang cukup
  • Berolahraga teratur
  • Mengelola stres
  • Menjaga kebersihan
  • Menghindari rokok dan alkohol  berlebihan

 

Makanan untuk Menjaga Kesehatan Sel Darah Putih

 

Beberapa makanan yang baik untuk menjaga kesehatan dan fungsi sel darah putih antara lain:

  • Buah kaya vitamin C  seperti jeruk, jambu biji, dan kiwi
  • Sayuran hijau seperti bayam dan Brokoli 
  • Makanan tinggi protein seperti ikan, telur, ayam, tahu, dan tempe
  • Makanan mengandung zinc  seperti seafood, kacang-kacangan, dan susu
  • Yogurt dan makanan probiotik
  • Ikan berlemak yang kaya Omega 3 seperti salmon dan tuna

Nutrisi seperti vitamin C, vitamin D, zinc, protein, dan antioksidan membantu mendukung pembentukan serta kerja sel darah putih agar sistem kekebalan tubuh tetap optimal.

 

Apakah sel darah putih dapat menyerang tubuh sendiri?

 

Ya. Pada penyakit autoimun, sel darah putih dapat keliru menyerang jaringan tubuh yang sehat karena sistem kekebalan tubuh Gagal membedakan antara sel tubuh sendiri dan zat asing.

 

Sumber :

White blood cell - Diseases, Immune System, Leukocytes | Britannica

Fakta Singkat: Penyakit Autoimun - Manual MSD Versi Konsumen

Complete blood count (CBC) - Mayo Clinic

Jenis-Jenis Sel Darah Putih pada Hasil Tes Laboratorium

Kanker darah

Apa Itu Reaksi Alergi?

Cleveland Clinic

 


Keranjang Anda

Keranjang anda kosong